Publik.info, Kalbar : Ternyata rokok baru buatan luar mapun pabrik lokal, terbukti sangat diminati masyarakat golongan ekonomi lemah. Bahkan mereka yang berkantong tebalpun, dengan dalih ngirit, terkadang sesekali juga ikut mengkonsumsinya.

” Bagi perokok sejati, sesuai penghasilan, jujur saya pribadi merasa terbantu dengan adanya barang baru tersebut. Disini kita bukan cerita nikmatnya rasa, tetapi lebih kepersoalan harga yang terjangkau, bermacam merk dan banyaknya pilihan jenis, ” ujar Saleh, tukang kambuhan.

Pekerja toko bangunan juga mengakui kalau dirinya sudah beralih ke rokok yang baru. ” Sebelumnya, karna adanya cuma itu, meskipun harganya selangit, ya tetap kita beli. Sekarang tidak lagi, wong rokok murah sudah banjir, ” terang Ahmadi.

Untuk takaran penghasilan rendah, sambungnya, tentu kita berpikir mengisap rokok mahal, mengingat yang murah lebih banyak, isinya 20 batang bahkan harganya dibawah Rp. 20 ribu. Jadi secara ekonomi, ini sama dengan menekan anggaran pengeluaran.

Berikut deretan masyarakat pencari makan yang mengkonsumsi rokok baru : buruh lepas, kuli pelabuhan, para tukang, petani, sopir oplet, pekerja toko bangunan, pedagang kaki lima, mamang bakso, penjual kue, satpam, kernet

Pekerja serabutan, pemulung, pekerja parit, tukang becak, karyawan tambang liar, pelayan kafe, warkop, super market, toko kecil, pengangguran keren, bos dedak (Kadang Ade Kadang Tadak), masyarakat biasa diseluruh Kabupaten Kota se Kalimantan Barat dan lain-lainnya yang belum disebutkan. JBN

error: Content is protected !!